Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Menelpon (t)uhan


Hubungi 7607766

Saya seorang pengangguran, Ayah Saya seorang pejudi yang tidak punya penghasilan tetap, sedangkan Ibu Saya sudah pasti punya penghasilan tetap dari bisnis remang-remang pondok lendir saat dia melacur. Ayah yang dulunya mengecam tindakan Ibu menjajahkan diri, kini berbalik mendorong semnangat pada Ibu mengingat kebutuhan ekonomi keluarga. Saya jenuh dengan kemiskinan dan ketidakpastian hidup ini, berkali-kali Saya melamar pekerjaan, tapi berpuluh-puluh kali Saya ditolak perusahaan yang kebanyakan mengutamakan orang yang sudah berpengalaman, kalau aturan ini tetap berlaku sampai kapan Saya dan orang-orang seperti Saya mendapatkan penghasilan tetap yang menutup kemungkinan Saya untuk mencari makan persis seperti Ayah Saya, dan sampai kapan pula sumber daya manusia di negara ini akan benar-benar efektif dan efisien jika selalu saja yang diutamakan orang-orang berpengalaman, kapan berkembangnya?
Apa memang takdir Saya harus jadi pengangguran seumur hidup? Tuhan memang tidak adil…, Tuhan??? Ahhh… siapa itu Tuhan?

Malam ini Ibu pulang tidak terlalu larut, sementara Ayah masih kongkow-kongkow dengan sesama pejudi yang sudah pasti topiknya adalah menyalahkan pemerintah jika sudah bosan membicarakan kelihaian istri masing-masing saat bercinta.
Lagi-lagi Ibu menanyakan padaku mengenai pekerjaan, memasuki usiaku yang ke dua puluh empat ini, Ibu mulai merubah tata bahasanya yang selalu kasar jika menanyakan sudahkah Saya mendapatkan pekerjaan.
Seperti biasa Saya hanya menggeleng-gelengkan kepala serambi menunduk memberi isyarat sampai detik ini tak ada tanda-tanda Saya akan memperoleh pekerjaan. Ibu mengeluh, sepertinya Ibu ingin marah, mungkin dalam hatinya berkata
"capek-capek jual daging tengah malam, disekolahkan tinggi-tinggi, udah jadi sarjana ekonomi, tapi ga bisa apa-apa sampai sekarang"


Tapi ternyata keluhan Ibu yang keluar dari bibir tebal nya itu bukan mengenai kekecewaan terhadap Saya karena belum kunjung mendapat pekerjaan, melainkan kejadian barusan mengenai usaha Trantib untuk memburu para pelacur liar kini semakin agresiv. Ibu cerita saat dia mangkal menanti para pejajan dan mendengar sirine buas yang siap memburu PSK, tangan nya dengan sigap merogo tas mini yang disandangnya meraih jaket tipis panjang dan selembar selendang, dengan cepat pula tangan kirinya merogo bagian dalam rok meluncurkan lipatan legging yang dipakainya kebawah, lalu memakai jacket dan menutup kepala dengan selendang tadi.
Ibu akhirnya bisa berjalan lempang dengan bebas tak menghiraukan tim Trantib, demikian juga sebaliknya, Trantib tak sedikitpun punya keinginan menggelandang Ibu melihat penampilannya yang serba tertutup dan lumayan sopan. Sialnya seorang apoteker cantik yang bekerja tak jauh dari tempat Ibu mangkal, ketangkap di klaim sebagai pelacur, Ibu kenal dengan dia, pada sift tertentu si apoteker yang berpakaian serba putih dan minim itu harus pulang tengah malam. Ingin Ibu membela dan menjelaskan bahwa dia bukan lah penjajah syahwat seperti dirinya. Tapi tidak..., Ibu mengabaikan niatnya, dia lebih memilih jalan aman dengan diam.
Heummm...., Saya bergumam kecil,
"masihkah penampilan menjadi prioritas utama pihak kepolisian untuk mendakwa seseorang itu adalah A, B, atau C tanpa mendelik lebih dalam lagi. Haruskah apoteker itu mengikuti jalannya interogasi, dipaksa naik truk, dinasihati ini itu mengumbar nasihat-nasihat suci"
Ya sudahlah..., Saya tak mau terlalu pusing dengan cerita Ibu mengenai si apoteker tadi, Saya harus lebih fokus untuk mendapatkan pekerjaan.

***
Hubungi 7607766

Rong..., Rongki.....
Gunawan memanggil Saya dengan suara cemprengnya menambah suasana gerah di siang ini. Saya berlari tancap menujunya memastikan ada kabar lowongan kerja, Gunawan tak pernah mengecewakan Saya. Dia pasti ada maksud serius hingga dengan lantang memanggil-manggil Saya.
Lari Saya mendadak parkir di bagian ruangan rumah reot ini, Saya melihat Ayah didepan televisi tapi tak menyimaknya, Dia ketawa girang seolah tak menyangka dengan deretan angka diatas secarik kertas kecil kumal di genggamannya.
Ayah menang togel, perjudian dengan menebak-nebak angka itu kembali marak setelah dulu ditiadakan oleh pemerintah. Tapi Ayah tak peduli sehingga kegirangannya menjadi-jadi, pun dengan siaran berita yang ada di depan muka sangarnya.

Lagi-lagi penyiar berita mengabarkan pengakuan dari seorang desa bahwa dirinya adalah wali Tuhan untuk bumi ini. Ratusan pengikutnya dihajar babak belur oleh sebuah organisasi keagamaan, mendakwa mereka sebagai aliran sesat. Entahlah...., siapa yang benar siapa yang salah, siapa yang suci siapa yang mendusta Tuhan. Saya tak mau ambil pusing, Saya harus fokus untuk mendapatkan pekerjaan.

Perjalanan Saya dengan Gunawan yang mengendarai motor tujuhpuluhan bututnya lumayan mulus tanpa kemacetan lalu lintas menuju showroom mobil terbesar kebanggan kota ini. Ya.., kami menuju showroom itu buat melamar pekerjaan sebagai apa saja. Saya sudah tak mau fikir panjang untuk kali ini. Dalam perjalanan Saya melihat banyak kertas-kertas iklan liar yang menempel di batang-batang pohon beringin sepanjang trotoar. Ada iklan yang menawarkan suatu produk provider handphone dengan pose artis seksi mengenakan kaos ketat yang bertuliskan "I'm Free" menonjolkan dadanya sambil bertelepon, ada iklan menawarkan jasa sedot WC, ada pula iklan slogan yang berbunyi
"jauhkan anak anda dari narkoba" atau
"jagalah keindahan kota"
Negara yang luar biasa! Disepanjang jalan bahkan saya yakin di seluruh bagian negri ini lebih banyak memasang close up perawan-perawan cantik yang berpose vulgar namun sudah di anggap wajar, daripada rupa tokoh-tokoh pengurus negara. Coba tanyakan dengan siswa yang baru lulus pendidikan menengah pertama, dipastikan mayoritas menjawab tidak tahu ketika ditanya siapa mentri kelautan dan perikanan, namun akan menjawab lantang dengan benar saat ditanya siapa artis seksi yg ada di stiker iklan pohon itu.
Begitu juga dengan iklan pemerintah yang menghimbau untuk menjaga keindahan kota.
Cuiiih..., iklan bulshit berkedok mendukung kelestarian sekitar, tapi kenyataannya.... papan iklan itu juga yang ramai berjejer merusak kerindangan pepohonan. Saya hanya bisa menjadi penonton yang tenang dalam boncengan motor tua Gunawan menyaksikan kebobrokan negara ini.

Hubungi 7607766
Dari sekian banyak jenis iklan yang Saya perhatikan, hanya ini yang membuat bingung Saya tiba-tiba bergejolak. Saya tidak begitu pasti apakah ini iklan atau keisengan orang-orang nganggur seperti Saya. Bukan menawarkan suatu produk, bukan menawarkan jasa, dan bukan pula slogan-slogan palsu seperti tadi. Di stiker kecil itu cuma bertuliskan :
"Hubungi 7607766"
Aneh sekali!
Lagi-lagi Saya tak mau ambil pusing dengan alasan yang sama, NYARI KERJA!

Sesampainya di showroom yang membutuhkan ratusan karyawan untuk disebar ke beberapa kota, Saya dan Gunawan masuk dengan modal percaya diri dan beberapa berkas yang tadi sudah dipersiapkan. Hanya lima menit kami didalam, setelahnya keluar dengan wajah lusuh. Saya dan Gunawan bertatapan saling memamerkan raut aneh bercampur dendam di wajah masing-masing mengingat ucapan Bapak sombong setengah tua yang kami tidak tahu apa jabatan nya di perusahaan ini berucap singkat namun menyakitkan :
"Rongki dan Gunawan..., betul??? Begini ya...., kalian itu sama sekali belum punya pengalaman kerja. Jadi tidak mungkin kami menerima kalian untuk bekerja di showroom terbesar di kota ini, lagipula kami membutuhkan pekerja yang sudah mempunyai mobil sendiri"

***

Langit malam mengiringi vokal kegelisahan Saya dengan orkestra gerimis yang melankolis. Dengan merdu Saya melantunkan lagu keheranan Saya tentang alasan Bapak tua showroom menolak Saya dan Gunawan. Saya terkagum dengan para penonton yang mendengarkan nyanyian Saya dari hati. Penonton yang terdiri dari cahaya lampu lima belas watt, almari usang penuh lubang, ranjang tiga kaki, dan penghuni kamar Saya yang lainnya riuh memberi tepuk tangan di iringi keprihatinan.
Pengalaman! hanya itu kah???
Lalu untuk apa gelar sarjana ekonomi Saya? dan jaminan apa yang diberikan titel sarjana hukum Gunawan?
Ditengah berlangsungnya konser agung yang penuh kekecewaan, tiba-tiba tujuh digit angka membuyarkan pertunjukan akbar Saya. Seluruh penonton pura-pura tidak tahu, dan mereka berlarian berserak menuju fungsi masing-masing.

Tujuh digit angka itu adalah yang tertera disepanjang pohon yang Saya lalui tadi siang. Secara memaksa angka-angka itu memberi sugesti pada Saya untuk menyudahi konser kekecewaan ini. Dengan paksa pula angka-angka yang tak terlalu sulit di ingat itu memerintah Saya untuk terus mengingat, mengingat, dan mengingatnya.
Lalu..., nomor telepon siapakah itu?
Benarkah Saya dipaksa untuk mengingat-ingat deretan nomor itu yang kemudiannya akan memaksa Saya untuk menghubunginya?
Atau Saya yang terlalu naif menyerahkan sel-sel memori otak Saya untuk memberi ruang menyimpan angka-angka tidak penting itu?

Hubungi 7607766

Saya mencoba menghubungi nomor itu dari telepon umum.
Tidak dijawab!
Saya ulangi, redial.
Tuut.. tuutt... tuutt...
Tidak dijawab!
Kembali Saya menekan redial....
kreteek..., Saya menghempaskan gagang telepon ke tuas pengait karena lagi-lagi tak dijawab.

Saya penasaran, ada apa dibalik nomor itu.
Tersambung tapi tidak dijawab.
Apa maksudnya mengumbar nomor telepon di tempat umum tanpa alasan yang jelas.

Satu jam kemudian...
Saya menelpon kembali nomor itu.
Tuutt... tuutt... tuutt....
Ulangi lagi.
Tuut... tuuut...
Lagi....
Tutuut...tuutt... tuutt...
Lagi....
Tuuutt... tutt...
Tuutt... tutt... tuutt....
Agggrrhh..., Saya kali ini benar-benar menghempas bukan peduli terhadap terik, tapi karena nomor telepon misterius ini.
Entah kenapa penasaran Saya berlebihan kali ini. Saya lebih fokus untuk menghubungi nomor telepon ini. Target memperoleh pekerjaan Saya abaikan demi membunuh penasaran Saya yang sudah mengubun-ubun.
Saya ke rumah Gunawan, meminjam ponselnya.
Heran Gunawan menghakimi Saya dengan tegas.
Saya mulai memencet nomor itu...
7-6-0-7-7-6-6
Call...
Tuutt...
"Aku yakin Kamu pasti menelpon Aku"
Begitulah jawabannya sebelum nada sambung pertama selesai.
"Akulah Tuhanmu"
"Darimana Anda tahu Saya pernah menelpon Anda"
"Dari Kamu! Kenapa??? Apakah Kamu punya masalah"
"Ti.. tidd.... tidak"
"Jangan malu! Beri saja rasa malu Kamu itu kepada para pejabat yang krisis rasa malu, Kamu dan Aku harus buang jauh-jauh rasa malu itu"
"Maaf..., Saya salah orang"
Saya menutup pembicaraan dan memutuskan komunikasi. Heran Gunawan sekarang mendakwa Saya sebagai orang aneh.
Saya pulang membawa bingung. Kebingungan itu menaklukan semangat Saya mencari pekerjaan seperti Saya menaklukan cibiran ibu-ibu yang menganggap Saya benalu keluarga ketika melintasi mereka di lorong gang.

***

Di kamar busuk ini Saya masih memikirkan dialog singkat Saya dengan mahluk di telepon tadi.
Tuhan? Pemerintah? Masalah? Saya memikirkan semua itu seraya menghisap dalam-dalam rokok putih ramping murahan.
Semua yang diucapkan nya sedang Saya hadapi sekarang.
Mencari Tuhan, mencari pekerjaan, dan menanti kebijakan pemerintah.

Rongky...!!! Ayah memanggil Saya dengan seraknya.
Ternyata Gunawan datang. Orang yang mengaku Tuhan menelpon lagi dan ingin berbicara sama Saya. Gunawan meminjamkan ponselnya hingga esok pagi, Gunawan tentu tak usah khawatir mengenai pulsa nya, toh yang menghubungi si tuhan.

Halo...! Saya menjawab tegas.
"Siapa namau Kamu"
"Rongki"
"Pekerjaan"
"Saya pengangguran"
"Usia"
"Dua puluh empat tahun"
"Agama"
"Saya tidak punya Agama"
"Kenapa"
"Karena Saya tidak tahu apa itu agama, sia-sia Saya memiliki sesuatu yang Saya tidak tahu apa fungsinya"
"Cerdas!"
"Apanya yang cerdas"
"Kamu! Kamu sangat cerdas"
"Alasannya"
"Kamu pantas jadi nabi Ku"
"Atas alasan apa Anda mengatakan Saya cerdas? jangan mengalihkan"
"Nanti Kamu juga akan tahu, sekarang maukah Kamu bekerja dengan Aku"
"Caranya?"
"Hubungi 7607766"
Tut tut tut tut....., si tuhan memutuskan komunikasi.

Pagi ini Saya ingin menelpon sang tuhan. Tapi menggunakan apa? Jika Saya terus-terusan menggunakan telepon umum, uang makan siang Saya yang dijatah Ibu lama kelamaan akan menipis, sementara Gunawan tak akan mungkin mau meminjamkan ponsel nya pada Saya untuk waktu yang lama.
Woow..., Tuhan memang adil! Saya melihat sebuah iklan di koran lusuh pembungkus nasi yg dibeli tadi malam. Di iklan itu menyatakan pagi ini ada penjualan ponsel murah, hanya sembilan puluh sembilan ribu. Saya langsung bergegas ke sebuah gedung yang di jelaskan iklan itu.
Di saat-saat genting seperti ini Tuhan menunjukan jalan pada Saya untuk membeli telepon genggam semurah ini, sungguh ajaib.

Saya benar-benar yakin Tuhan yang akan Saya telepon adalah Tuhan sejati yang akan memberikan kehidupan yang indah pada Saya.
Untung! Ya! Saya menjadi orang yang beruntung saat ini. Karena Saya datang terlalu pagi, Saya dengan mudah mendapatkan ponsel murah itu sebelum kejadian sekarang. Para pengantri dengan cepatnya memenuhi jalan raya mengganggu arus lalu lintas. Ada yang pingsan terinjak-injak, anak kecil kehilangan orangtuanya, kericuhan saling berebut, dan banyak insiden lain yang membuat pihak kepolisian membubarkan event akbar yang sangat disukai masyarakat negri ini, penjualan barang murah!
Sesampainya Saya dirumah, Saya buru-buru menghubungi sang Tuhan.
"Ya"
"Tuhan..???"
"Hai Rongki"
"Hai Tuhan"
"Kenapa Kamu menelpon Aku"
"Karena Saya sedang mencari keadilan Tuhan"
"Kamu mengenal Tuhan sebelumnya?"
"Tidak, untuk itu Saya menelpon Anda"
"Kamu yakin Saya ini adalah Tuhan?"
"Kenapa Anda menanyakan keyakinan Saya? Bukankah Tuhan selalu memberi jawaban?"

Hampir dua jam Saya bicara dengan mahluk yang mengaku Tuhan itu. Dialog-dialog kami tajam dan berani mempertanyakan maksud masing-masing.
"Anda menetap dimana sekarang?" Saya memastikan.
"Kamu tak perlu Tahu"
"Kenapa Anda mengaku sebagai Tuhan?"
"Lalu kenapa Kamu menelpon Aku?"
"Saya cuma ingin memastikan apakah Anda benar bisa merubah kehidupan Saya"
"Saya janji akan merubah nasib Kamu, katakan apa persoalan hidup Kamu?"
"KEMISKINAN!"
"Kenapa dengan kemiskinan?"
"Negara ini sentimen sekali kepada Saya, padahal Saya tidak pernah membuat keributan, Saya tak pernah membuat malu negara ini, dan Saya tak pernah merugikan negara. Saya mengikuti aturan-aturan mereka, Saya dengan setia mengikuti upacara bendera setiap hari kemerdekaan, tak pernah saya lupa mengibarkan bendera dua warna di rumah setiap tahunnya"
"Kenapa Kamu menyalahkan negara? Yang kamu salahkan itu pemimpinnya, dan juga semua pejabat pemerintahan. Negara ini terlalu polos untuk di kelola pemerintahan yang picik"
"Dan negara ini terlalu miskin untuk di kuras pejabat-pejabat serakah?"
"Siapa bilang? Negara ini tidak miskin! Hanya orang sirik saja yang bilang negara kita ini negara yang miskin. Negara kita ini masih kaya, bahkan terlalu kaya. Sakin kaya nya dengan sangat mudah membagi-bagikan mobil mewah harga satu koma tiga milyar buat orang-orang yang disebut pengurus negara, bahkan ada yang remeh mencibir karena mobil itu tak lebih mahal dari yang di miliki para pejabat negara itu. Negara yang luar biasa..., negara yang kaya. Apakah Kamu masih bilang negara ini miskin? kalau rakyat nya yang miskin jangan salahkan negaranya, salah kan kebodohan mereka karena mau membiarkan petinggi-petinggi negeri ini menyengsarakannya"
"Mereka itu termasuk Saya?"
"Jangan tanyakan padaku soal itu, ya sudah..., nanti kita sambung lagi. Aku mau ke kediaman salah satu umatku, mereka memintaku menghapuskan dosa-dosa mereka sekeluarga"
Hingga saat itu sang tuhan menutup telepon tanpa meminta respon dari Saya.

Bodoh! Mungkin Saya adalah orang yang paling bodoh yang dimiliki negara cerdas ini. Tak tahu apa yang menyebabkan kebodohan Saya. Mungkin kemiskinan yang memaksa Saya untuk bodoh, mungkin juga karena takdir, atau jangan-jangan Saya bodoh karena Saya tak mempercayai Tuhan. Tuhan??? bukannya yang baru Saya telpon tadi adalah Tuhan???
Apa itu Tuhan??? Saya makin bodoh akibat diperbudak pertanyaan barusan.

Sudah empat hari Saya mendekam di kamar sempit ini, selama itu pula Saya selalu rutin menelpon tuhan untuk mendengar petuah-petuah nya yang sedikit penting. Atau justru Dia yang sebenarnya berharap rutin mendengar keluhan-keluhan bodoh Saya. Saya makin menikmati berdialog dengan tuhan yang sengaja menyebar nomor telepon nya di jalanan. Seakan Saya menemukan sosok juru selamat dalam keterpurukan masalah Saya. Saya juga sering tak peduli dengan keadaan sekitar, Yang Saya tahu pasti adalah Ibu makin laris manis menjajahkan tubuhnya, Ayah mendewakan deretan angka-angka togel, namun untuk Gunawan Saya hampir tak mendengar kabarnya.

Saya kembali menelpon tuhan.....
"Halo Rong.., apa kabar?"
"Masih biasa! Bagaimana dengan penghapusan dosa keluarga kemarin?"
"Semuanya beres, dan mereka kembali suci selayaknya bayi"
"Anda yakin?"
"Kalau Kamu masih mempertanyakan itu, kenapa Kamu masih menelpon Aku?"
"Saya menelpon Anda bukan semata-mata karena saya yakin Anda adalah Tuhan"
"Lantas?"
"Saya ingin kepastian"
"Rongki… Rongki…., Kamu tahu Lia Eden? Kamu tahu Ahmad Mushadeq? Atau baru-baru ini Kamu pernah dengar nama Ahmad Tantowi? jika mereka bisa mengaku Tuhan, Kenapa Aku tidak boleh?"
"Dan Anda merasa layak disejajarkan dengan mereka?"
"Bukan hanya sejajar, tapi bisa jadi kedudukanku lebih tinggi daripada mereka. Belakangan orang berlomba-lomba mengaku sebagai Tuhan, mengumpulkan umat sebanyak-banyaknya yang kemudian dijadikan sebagai pengikutnya. Kenapa Aku harus jadi pengikut jika Aku bisa jadi pemimpin. Kalau bicara soal agama, arrrrghh… agama itu sekarang hanya menjadi propoganda orang-orang buat mempertahankan kekuasaannya, dan Aku cukup pantas untuk meramaikan ketuhanan di negri ini"
"Yang artinya Anda hanya ikut-ikutan?"
"Jika iya Aku ikut-ikutan, kenapa Kamu mau menghubungiku padahal banyak tuhan-tuhan lain yang berserakan di negara ini?.
"Saya semakin yakin kalau Saya tak akan bisa menemukan sosok Tuhan yang sejati, mendengar pertanyaan-pertanyaan konyol dari Anda"
"Rong..., Kamu tahu apa fungsi Tuhan? Kamu tahu kenapa Tuhan selalu di agungkan?"
"Mungkin karena Tuhan adalah sosok yang misterius"
"Lalu kenapa Kamu tidak mempercayai Tuhan?"
"Saya tak akan mempercayai sebelum Saya menemukan"
"Dengan Menelpon Aku, Kamu berharap bisa menemukan sosok Tuhan?"
"Mungkin iya!"
"Kalau begitu temukan Aku besok! jam dua siang dijalan Sabota, nomor seratus tiga puluh tiga, Pusat Kota. Aku akan angkat Kamu jadi nabiku. Sampai jumpa!"

***

Angin malam menghantam pipi kasar Saya, sementara gemintang dengan lagak angkuhnya menyirami malam yang sudah sedikit basah dengan cahayanya tanpa mempedulikan Saya yang sedang berbunga-bunga karena besok akan menemui tuhan. Tak sabar rasanya menantikan besok siang, Saya diangkat menjadi nabi! luar biasa...
Dalam ketidaksabaran Saya yang memuncak, akhirnya Saya dihempaskan juga oleh tidur hingga Saya mendarat di alam mimpi.
Dalam mimpi Saya berada di antara ratusan umat yang siap mengagung-agungkan status Saya sebagai nabi, pakaian Saya yang elegan, aroma tubuh yang memikat, raut wajah yang berseri, Saya siap membawa para umat yang tersiksa dengan ketidakadilan negeri ini ke arah yang memuaskan. Namun beberapa para umat yang datang dari pelosok utara malah menertawai Saya. Dasar pengikut yang tak tahu sopan..! Sang nabi lewat bukan nya hormat justru mencemooh. Tapi Saya tak peduli, Saya tetap berjalan lurus menuju sang tuhan untuk menyematkan status kenabian Saya. Saya berjalan masih dengan pakaian yang elegan, aroma yang memikat, dan wajah yang berseri. Tak lupa Saya membusungkan dada Saya untuk memamerkan papan nama kecil yang terpasang di bagian dada kanan kemeja Saya dengan nama agung membanggakan NABI RONG.

Tinggal beberapa jam lagi Saya akan menemui sang tuhan, ini kali pertama Saya begitu tergesah-gesahnya untuk menemui sosok yang amat menyenangkan. Hanya pada dia selama ini Saya menggantungkan harapan Saya menuju kesejahteraan, Saya ingat janji nya waktu itu, memberi Saya pekerjaan. Dialah tuhan yang Saya agungkan. Yang menjamin Saya menuju kebahagiaan yang hakiki.
Sebelum Saya berangkat ke kediamannya, Saya mencoba kembali menelponnya untuk memberi kepastian Saya akan datang sesaat lagi.
Mentari pagi yang siap menyapa siang menertawai Saya, kicauan kawanan burung menyanyikan lagu bernada cibiran. Ada apa ini??? kenapa alam seolah memusuhi Saya setelah berkali-kali Saya menelpon tuhan namun tak ada jawaban.
Saya tak ambil pusing..., terkadang sikap remeh alam menunjukan dukungan pada makhluk yang bernama manusia. Bukan berarti telepon Saya yang tidak terhubung pada tuhan karena sambungannya di putuskan oleh provider bersangkutan lantaran tidak membayar tagihan, tuhan Saya sudah pasti sangat kaya raya.
Saya mencoba menelpon kembali.....
Sial! kembali tak di jawab. Tumben tuhan tak mengangkat telpon Saya. Saya tak mau terpaku lama memikirkan kenapa telpon Saya tak tersambung, dengan segera Saya pun berangkat menuju sang tuhan.....

Saya naik angkot menuju alamat si tuhan. Saya melamun diantara sesak beraneka penumpang.
Di sisi kiri Saya penumpang berpenampilan tegas berjubah merah dan bertanduk memberi semangat pada Saya yang siap diangkat menjadi nabi. Sementara di sisi kanan Saya adalah sosok lembut berpenampilan serbah putih malah menyapa ramah berkata
"berfikirlah yang rasional, jangan menyerah dengan keadaan"
Saya tak mengenal kedua sosok yang sok akrab itu..., Saya mengabaikan kata-kata keduanya.

Jalan Sabota, No. 133, Pusat Kota. Sekarang Saya sudah berada di depan rumah sederhana si tuhan. Luar biasa sekali siang ini...., si tuhan benar-benar akan mendeklarasikan pada semua orang bahwa Saya akan menjadi nabi agung. Setidaknya itulah yang Saya tangkap melihat situasi di dalam maupun di perkarangan rumahnya yang lumayan lebar padat dipenuhi warga. Pasti mereka adalah para umatnya, pasti mereka rela berdesakan untuk dihapuskan dosanya. Sekarang Saya berjalan perlahan-lahan diantara para umat menuju pintu utama rumah sang tuhan. Benar-benar ramai, sungguh riuh, Saya takjub dengan situasi ini. Situasi sesak dengan keramaian menanti Saya yang akan segera diangkat menjadi nabi.


***

Pusat Kota (SWARTA)
Delapan orang tewas gantung diri didalam sebuah rumah tua yang di huni oleh penyebar aliran sesat. Pemimpin aliran sesat, Malik Kartono (46) yang mengaku dirinya sebagai Tuhan juga termasuk diantara delapan mayat itu. Sementara tujuh mayat lainnya yang menjadi pengikut Malik adalah Nurshanti (31), Robert Raksana (25), Saripah dewi (30), Gunawan (24), Nasib Bagus (37), Zulfan aliandro (28), dan Panji Tjokro (40). Di sinyalir praktik gantung diri itu adalah salah satu ajaran dari Malik kepada para pengikutnya untuk mencapai surga. Aliran sesat ini sebenarnya sudah mulai membuat resah masyarakat sekitar, namun tak ada yang berani membubarkan mengingat pendiri kelompok ini, Malik Kartono adalah seorang yang disegani di kampungnya dan sempat ikut daftar di pemilahan calon anggota DPR, demikian dikutip dari pengakuan Sumiati, tetangga Malik.
Malik sendiri punya cara yang unik untuk mendapat pengikut, yakni menyebarkan nomor teleponnya di beberapa lokasi umum tanpa memberitahu identitas dan tujuannya. Beberapa teman dekat Malik mengatakan bahwa pria tak beristri ini mulai aneh sejak kalah di pemilihan anggota legislatif tahun lalu.
(selanjutnya baca di hal 5 kol 8)

Seperti itulah berita yang saya baca di halaman muka Koran SWARTA. Berita itu begitu cepat di cetak oleh SWARTA, sebuah surat kabar Sore terakurat di kota ini. Namanya Malik Kartono, sosok yang selalu saya idolakan yang bersembunyi dibalik angka 7607766. Saya mengira keramaian yang amat sangat tadi siang di rumahnya adalah guna menyambut kedatangan saya sebagai nabinya, namun ternyata semua itu adalah kegaduhan masyarakat sekitar menyaksikan delapan orang tewas gantung diri dengan susunan yang rapih. Saya hengkang tak mau kelihatan terlibat, hingga kini Saya kembali berada di angkot dan membeli koran sore SWARTA di persimpangan lampu merah. Saya sedikit membatin ketika membaca isi koran itu, tempat yang baru Saya kunjungi, orang yang seharusnya Saya temui menjadi berita utama di SWARTA dengan tagline PENYEBAR ALIRAN SESAT TEWAS GANTUNG DIRI BERSAMA TUJUH PENGIKUTNYA UNTUK MENCAPAI SURGA.
Sekali lagi Saya dikalahkan oleh kebodohan Saya sendiri.


***

Nama Saya Rongki Irawan Manuhutu, Umur Saya duapuluhempat tahun, Saya bukan lagi pengangguran, kedua orangtua Saya pengurus sebuah LSM perdagangan wanita setelah dulunya mereka masing-masing disibukkan dengan dunia hitam, yang satu melacur, yang lainnya berjudi, namun kini mereka berubah setelah Saya meminta mereka untuk bergabung di LSM yang bekerjasama dengan media tempat Saya bekerja. Saya punya seoarang sahabat yang kini sudah berpulang ke pangkuan Tuhan yang sesungguhnya, namanya Gunawan. Dia tewas bersama kebodohannya mengikuti ritual gantung diri arahan dari tuhan palsu, Saya tak menyangka dengan diamnya ternyata Gunawan terobsesi buat mengikuti jejak si tuhan imitasi melebihi antusias Saya waktu itu. Gunawan yang seorang sarjana hukum ternyata tak lebih pintar dari Saya sampai-sampai dia mau mati konyol, atau memang takdir yang membuat Saya terlambat datang pada hari naas itu sehingga Saya masih bisa ada di tempat ini. Entahlah....
Terkadang kekurangan itulah yang melebihkan kita, terkadang kebodohan itulah yang mencerdaskan kita, terkadang pengalaman pahit itulah yang mendikte kita agar jangan mau berulang-ulang jadi budak ketidakadilan. Malik yang setelah ditelisik sejarah dan motif nya mengaku Tuhan lantaran semata-mata merasa ketidakadilan menerpanya dikala dia tak menang di pemilu legislatif tahun lalu. Saya yakin disinilah perlunya iman, dimana ketika orang sedang jatuh dan merasa tak berdaya buat bangkit lagi maka bukan dengan cara mengikuti tindakan-tindakan yang tak masuk akal memperumit masalah negara ini misalnya dengan membentuk dan mengikuti keyakinan, ketuhanan, dan ajaran-ajaran menyimpang.
Sejak kejadian itu dan Saya berharap untuk seterusnya selama pompa jantung Saya masih aktif berinteraksi dengan oksigen, Saya yakin dengan keadilan Tuhan yang sejati, karena entah kenapa kebodohan saya terkalahkan waktu itu dan Saya percaya Tuhan sejati lah yang menundukan keterbelakangan Saya, walau Ia tak terlihat. Selama ini Saya dibodohkan dengan pencarian Tuhan, namun dengan kejadian silam, sekarang Saya tahu bahwa Tuhan bukan untuk dicari tapi dirasakan.

Orang-orang tak perlu tahu Saya beragama apa, dan Saya merasa siapapun tak perlu tahu Saya menuhankan siapa. Yang pasti Saya bukan pengikut orang-orang gila tak menerima keadaan sebagai orang gagal yang akhirnya mengobati kesakithatiannya dengan mengaku sebagai tuhan yang banyak di negri ini.
Sudah hampir enam bulan Saya memimpin rubrik favorit di majalah ini, sejak kejadian membongkar kematian si tuhan palsu, sekeras apapun upaya Saya menyembunyikan diri tetap tercium oleh para pembuat berita. Mendadak Saya menjadi sorotan di berbagai media sebagai orang yang paling sering berkomunikasi di telepon dengan Malik Kartono, bahkan telepon genggam yang bernomor telepon rumah itu diserahkan polisi kepada Saya buat keterangan wawancara yang membuat Saya terbiasa dengan dunia jurnalis. Beberapa wartawan dan pimpinan redaksi media cetak maupun elektronik sudah familiar dengan Saya, begitu juga sebaliknya hingga membuat Saya berani menawarkan diri bekerja di sebuah majalah ternama dan langsung diterima. Tak tanggung-tanggung, Saya langsung dijadikan pimpinan redaksi sebuah rubrik yg isinya pengalaman orang-orang yang sebelumnya tak mempercayai Tuhan kini menjadi seorang yang berTuhan. Agak kontradiksi memang dengan basic Saya di dunia ekonomi.

Saya tak perlu memberitahu apa agama Saya, Saya tak perlu memberitahu siapa yang Saya Tuhankan. Untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman spritual guna diterbitkan di rubrik majalah tempat Saya bekerja, Saya hanya merasa perlu menginformasikan sebuah nomor kontak pribadi buat mereka yang ingin terbuka pada Saya.....
Jika ada yang mau bercerita…..
Hubungi 7607766.

***

Oleh : Junior Panda Limbong
24 Januari 2010, 23.30 WIB

Baca Selengkapnya...

pura(2)hidup


Hari ini adalah hari yang paling menyedihkan untuk dua orang laki-laki ini, Gelas dan Jemi.
Gelas tiba-tiba di PHK dari perusahaan tempat ia bekerja, tanggal 2 oktober menjadi angka yang paling menyedihkan bagi Gelas, pasalnya hari ini tepat seharusnya dia menerima gaji ia malah mendapati kenyataan dirinya harus berhenti sebagai karyawan rendahan di perusahan periklanan tersebut lantaran bangkrut. Dari raut wajahnya yang kelihatan lusuh karena (mungkin) lelah mengemudikan sepeda motor bututnya, dia bergumam dalam hati "Akh..... bagaimana reaksi Zoya setelah ku beritahu mengenai PHK ini yah....??? Anjiing!!! kenapa penderitaan ku sedari dulu tak ada habisnya"
Kelihatan betul Gelas sangat cemas menghadapi istrinya nanti. Pria berumur 36 tahun ini selalu diremehkan istrinya yang ketus bernama Zoya.

Lalu apa yang di alami jemi??? Jemi yang bernama lengkap Gemilang Lakmo Santoso adalah pria berumur 13 tahun yang masih kelas satu di sebuah SMP swasta. Jemi terkenal rajin dan cerdas di kelasnya, tapi yang namanya ketidakberuntungan tetap ketidakberuntungan. Jemi yang lahir dari rahim seorang pelacur jalanan harus terus merasakan siksaan demi siksaan dari kedua orangtuanya. Ayah Jemi yang bernama Lakmo adalah germo dari ibunya yang bernama Canting. Lakmo rela menikahi Canting yang tengah hamil dari seorang hidung belang yang tak tahu kini dimana rimbanya. Jemi mengetahui dirinya bukan anak kandung Lakmo pada usia sepuluh tahun, ketika itu Jemi baru pulang sekolah dan mendapatkan orangtuanya berkelahi. Jemi ingat betul dialog perkelahian orangtuanya itu.
"Dasar lonte....!!! seharusnya kamu bersyukur aku mau nikahi kamu, kalau nggak siapa yang bakal jadi bapak dari anak haram mu itu heeeh"

Assalamualaikum.......!!!
Walaikumsalam! jawab Zoya cuek yang sedang nonton infotainment kesayangannya. Zoya bukannya memperlakukan Gelas dengan mesra saat pulang dari kantornya.
Kenapa lusuh gitu? tanya Zoya
Keliahatan ya aku lusuhnya? gelas memastikan dengan lemas
Hummmm...... dasar suami kosong!!!!!
Maksud kamu apa Zo??? Gelas bingung
Halaaah...... jangan belagak bodoh Gelas....!!!
Sudah delapan tahun kita menikah apa yang bisa kamu berikan kepadaku haah!
Kehidupan yang masih pas-pasan, rumah juga ngontrak, kamu itu ga pernah memuaskan aku secara lahir dan batin! Kerjaan.......!!!! Zoya menekan suaranya
Cuma karyawan rendahan, memalukan!
Dan kamu tahu yang lebih memalukan??? delapan tahun kita berumahtangga Tak sekalipun aku bisa punya anak dari kamu, bahkan tanda kehamilan pun tak pernah aku rasakan.
Benar-benar kosong kamu sebagai lelaki, dasar mandul!!!
Ceeesssss......... ketika pada kalimat itu sontak Gelas ingin rubuh dari tegaknya, dia semakin rapuh, smakin minder, semakin terpukul, semakin tak percaya dengan yang namanya manusia. Dia lemah dan tak bernafsu hidup, ingin dia menangis tapi dia malu dengan sosok di depannya yang seharusnya menjadi penentram jiwanya. Ia gamang dengan situasi yang sangat menyiksanya sekarang.
Gelas tak tahan dengan semua makian istrinya, kakinya melangkah ingin ke kamar mandi dan menangis sepuas-puasnya. Tapi ketika masih selangkah beranjak, tiba-tiba Zoya membentaknya.

Kali ini di kelas Jemi ada ujian tiga bulanan dan seperti biasanya anak cerdas nan gemilang ini selalu menyelesaikan soal paling dahulu dari murid lainnya. Setelah ia duduk kembali, secara mendadak seorang guru yang selalu membawa buku panjang bercorak batik datang dan memanggil Jemi.
Ya bu....., Jemi menjawab dan menghampiri guru setengah cantik itu
Kamu tahu....., kamu itu menunggak uang sekolah selama tiga bulan! sinis sang guru
Tapi bu, orangtua saya belum punya uang, saya janji bulan ini akan saya lunasi semuanya bu! karena orangtua saya bilang bulan ini mereka ada rezeki.
Si guru menyambung, Apa kamu bilang??? rezeki??? rezeki apa? rezeki lendir???
Jemi kaget sekali mendengar istilah gurunya itu, belum lagi seluruh teman nya bersorak menertawakan Jemi.
Ternyata satu sekolah tahu mengenai profesi orangtua Jemi.

Jemi disuruh pulang dan dilarang kembali jika belum melunasi seluruh tunggakan itu. Aturan yang aneh memang, Anak secerdas Jemi harus kehilangan jam sekolah lantaran belum melunasi administrasi.
ketika jemi sampai dirumah dia langsung menuju kamar ibunya untuk melaporkan masalah tunggakan. Tapi betapa terkejutnya Jemi saat melihat pemandangan dikamar orangtuanya itu. Jemi melihat situasi persis ketika ia berumur sepuluh tahun saat ia mendengar tak sengaja bahwa ia bukan anak kandung Lakmo. Waktu itu setelah Lakmo puas mencaci maki Canting ia malah menjambak Canting, menciumi bibirnya, dan melepaskan semua benang yang membalut tubuh Canting. Kemudian Canting dilempar ke ranjang, Lakmo pun melucuti celananya, dan ketika melihat adegan tak senonoh itu, ketika Jemi melihat ibunya dengan posisi telentang, dia tak sanggup melihat apa yang dilihatnya, dan......... jeeeeeep!!! Jemi menutup matanya. Dan kini ketika Jemi membuka matanya alangkah terkejutnya ia melihat laki-laki yang menyetubuhi ibunya itu bukan Lakmo, bapaknya. Ya! Jemi kenal pria itu, seorang juragan susu yang tinggal di depan gang. Lalu kemana bapaknya??? Jemi menoleh kesamping dan ia mendapati bapaknya, Lakmo sedang asik senyum-senyum menonton acara ria jenaka di tivi hitam putih nya. Lalu Lakmo melihat Jemi dan menghampirinya, "apa yang kamu lakukan haah....., kamu ngintip?? iyakan???"
Kemudian Lakmo menyeret Jemi ke dapur. Disini Jemi disiksa habis-habisan, punggungnya dipukul dengan gagang sapu ijuk yang tebal, kepalanya di bentur-benturkan di meja makan, pipinya berkali-kali ditampar, benda-benda dapur yang kebanyakan dari kaleng terus melayang ke tubuh Jemi, piring kaleng berkarat mendarat melukai jidatnya yang dipenuhi sel-sel kecerdasan, dan batu ulekan menghantam perutnya.

"dasar anak haram! apa yang kamu intip haah... kamu penasaran dengan apa yang diperbuat ibu kamu?? ibu kamu itu lonte, kalau dia tidak begitu kita semua ga bisa makan. Kamu juga gak bisa sekolah, ngerti kamu!"

Sengsara betul nasib anak jenius ini.......

Lalu bagaimana dengan Gelas yang hendak ke kamar mandi namun dibentak istrinya???
Mau kemana kamu Gelas?
Mau menghindar dari masalh ini ya???
Bukan nya ada yang ingin kamu sampaikan sama aku?
Gelas terhenti dari langkahnya dan bingung mengapa Zoya tahu ada yang ingin disampaikan nya mengenai PHK tadi.
Kamu mau bilang bahwa kamu di PHK kan?
Kamu tahu darimana Zoya?
Gelas...... Gelas....., Zoya mulai mencibir
Kamu itu memang ga ada lebihnya ya?? serba kekurangan. Udah mandul, lemah, sekarang di PHK
Kali ini Gelas benar-benar meneteskan air matanya, dan dengan ketidaktahanannya terhadap Zoya dia pun berkata dengan pelan serambi menarik nafas, "lalu apa yang harus kulakukan zoya?"
Zoya menjawab dengan nada tinggi, 'aku cuma minta satu, kita pisah"
Itu kata terakhir Zoya, setelah itu dia pergi tanpa membawa apapun kecuali pakaian yang dikenakannya.
Sementara gelas, sepeninggal istrinya dia hanya bisa terseduh, jiwanya susut seperti gabus disiram bensin.
Sampai juga dia ke kamar mandi, dia menangis sejadi-jadinya, hinga akhirnya dibenamkan kepalanya kedalam bak mandi yang lebar.

satu menit.
dia masih membenamkan kepalanya kedalam air tanpa gerak sedikitpun

dua menit
kapalanya belum juga beranjak dari dalam air, apakah ia sudah mati?

hampir tiga menit
dia pasti sudah mati, tapi tiba-tiba.... Air bergoncang dan kepalanya keluar dari bak itu.

Gelas menjerit sejadi-jadinya, ia tak kuasa dengan apa yang ia alami kini.

"Tuhan apa salahku??? mengapa dari dulu tiada keadilan dalam hidupku, sebenarnya dari dulu aku tak sanggup dengan kehidupanku ini, namun ada saja alasan buat aku bertahan. mungkin sewaktu di rahim ibuku dulu kau bertanya padaku dan menghadapkan pilihan padaku lahir ke dunia atau tidak? dan aku memilih lahir.
tetapi ketika aku sudah lahir masih banyak pilihan lain yang harus ku pilih. Tuhan.... apakah sekarang aku berada pada pilihan yang salah? dari dulu aku sudah memutuskan bahwa aku ingin mati meninggalkan dunia yang kotor ini, tapi aku coba berfikir dan menjalani ini dengan positif. Aku menikah, aku bekerja, dan aku memperbaiki hormon-hormon ku yang rusak, tapi apa jadinya....??? aku di PHK, istri ku meninggalkanku, dan kemandulanku tak tersembuhkan. Aku goyah tuhan, aku capek, aku sudah menganggap diriku ini sudah mati sejak aku kecil, aku hanya pura-pura selama ini. Aku lemah tapi pura-pura tegar, aku rugi tapi pura-pura beruntung, aku kosong tapi pura-pura berisi, lelah aku dengan kepura-puraan ini. Ingin aku jujur tapi keadaan selalu menentangku"

gelas benar-benar kosong kali ini, bayang-bayang masa lalu selalu menghantuinya. Sejak dulu dia sudah merasakan ketidakadilan dalam hidup ini, Hingga ia pun melakukan hal-hal diluar kenyataan hidupnya. Dia dimusuhi tetangganya, dimusuhi teman nya, dia sering juga dimusuhi orangtuanya, dan lebih parah dia bermusuhan dengan dirinya sendiri. semua itu tak lain karena siksaan batin dan ketidakadilan yang membentuk karakternya.
Gelas keluar dari kamar mandi dengan lelehan airmata di wajahnya. Lalu gelas menuju gudang sempit disamping kamar mandi. Dia mengais-ngais benda ala gudang itu dengan tergopoh-gopoh penuh keringat, sepertinya yang ia cari saat ini begitu penting. Tujuh menit kemudian dia tersenyum lebar namun tetap menjatuhkan airmata, alangkah girangnya ia menemukan benda itu hingga akhirnya dia berlari masuk ke kamarnya.

Tali tambang! yang dicari Gelas adalah tali tambang yang kini ada di genggamannya. Ditutupnya pintu rapat-rapat, dikamar ini, dirumah kontrakan ini aku akan menyelesaikan kepura-puraanku dan aku akan berada pada titik yang sebenarnya di diri ini, yaitu MATI. Diikatnya tali itu pada lampu hias gantung di atap kamarnya, lalu ujung tali itu dia lilitkan dilehernya dengan posisi menaiki kursi ukuran sedang.
"Selamat tinggal kehidupan, aku akan menuju kesejatianku"
gelas melompat dari kursi dan..... wuuush...... suara angin mendesah masuk menyelinap kedalam kamar ini, kamar dengan sosok laki-laki menggantung dibawah lampu, lidah menjulur, mata membelak dengan tetesan air mata. Ya! dialah Gelas yang tewas gantung diri mengakhiri hidupnya yang pahit dan penuh kepura-puraan. Ironi memang...............

Dan bagaimana kehidupan Jemi???

Sejak kejadian itu saat Jemi selalu menjadi bahan siksaan lahir dan batin oleh orangtuanya, Jemi memutuskan kabur dari rumahnya yang kumuh. Dia tak peduli dengan orangtuanya, tak peduli dengan sekolahnya, dan tak peduli dengan otak gemilangnya.
Dia berlari membawa luka di hatinya dan meninggalkan rumah yang penuh dosa itu, jemi bergumam dalam hati "aku tak tahu apakah aku bisa menghilangkan penderitaanku diluar sana"
Ahhh..... anak sekecil itu. Seketika Jemi linglung seperti orang gila, dia seperti kehilangan akal, otak cerdasnya tak lagi peka, mungkin karena benturan di kepalanya tadi siang atau sebelum-sebelumnya. Malam pun datang, Jemi mengemis dan mengamen dijalan hanya bermodalkan tutup beer, receh demi receh yang ia dapatkan ditukar dengan sebungkus nasi dan mungkin seperti inilah yang akan dia jalani dari hari ke hari.
"hahaha..... akhirnya aku bisa juga menghasilkan uang. Tanpa mereka, orangtua yang gila itu, aku juga bisa mandiri"
kesombongan menguasai pikiran Jemi yang labil, ia ingin mengubah hidupnya, ia ingin keluar dari penjara hidup yang sesak selama ini. Jemi menikmati hari pertama nya hidup dijalanan, bocah yang sedang dilanda gejolak pubertas ini kaget ketika ada yang memanggilnya dan memintanya bernyanyi. Yang memanggil adalah seorang gadis manis berseragam SMP yang sedang dibonceng ayahnya, dengan manis pula Jemi membawakan lagu buat si gadis yang seumuran dengan nya itu. Pandangan Jemi mencuri ke papan nama di dada remaja cantik itu. Siswi SMP itu sungguh girang mendengar lantunan dendang dari mulut Jemi. Setelah selesai menyuguhkan lagu ala terminal itu sang ayah gadis memberi selembar uang lima ribu rupiah, dan mereka berlalu namun si gadis masih menoleh ke wajah Jemi.
Senyum sumringah menutupi derita Jemi selama ini, dengan uang lima ribu rupiah dia merasa kaya.
"lumayan bisa beli baju baru" bisiknya dalam hati, namun bukan uang itu yang membuat nya senang bergelora, tetapi si gadis tadi, senyumannya membuat nya kembali bergairah untuk hidup, dia buang jauh-jauh deritanya selama ini. Dia ingin memulai hidup baru, dengan pura-pura bahagia dia pun merubah segalanya. Dia ingin kembali sekolah, namun ia tak ingin dipanggil Jemi dan ia berfikir sejenak untuk nama panggilan baru dari nama lengkapnya GEmilang LAkmo Santoso. Mulai saat inilah dia melupakan masa lalunya dan berusaha untuk mendapat kebahagiaan yang kekal.

Matanya melihat penanggalan lusuh di dinding sebuah warung makan, 2 oktober! inilah hari pertama ia merasa bahagia, bisa jadi karena cinta monyet pertama nya dengan gadis di motor tadi, ia masih ingat namanya yaitu Zoraya. Mungkinkah cinta bocah ini menjadi kenyataan?
Mungkin tidak! tapi mungkin saja Ya! walaupun nantinya akan berujung maut.

Baca Selengkapnya...

Teka-teki Subuh Hari


Pemuda itu namanya Raka, tatapan nya kosong memandang jendela yang berembun. Pagi ini dia mendapatkan bisikan yang dia tak tahu dari mana datangnya bisikan itu. dari tatapan kosong nya sekarang berpindah ke arah ibu nya yang masih tertidur lelap menjelang datangnya subuh. dia menangis, seketika pipi nya di banjiri air- air asin dari pelupuk matanya. Entah apa yang membuat nya menangis. seolah - olah bisikan itu yang menyuruh nya menangis terseduh. Dia sangat menjaga keadaan agar ibunya tidak terbangun mendengar dia menagis, sekuat tenaga dia menahan suaranya agar tak terdengar oleh ibunya yang paruh baya, diapun mengusap pipi nya dengan seehelai kain kusam.

Jempol kaki ibu nya bergerak refleks mungkin terkena gigitan nyamuk yang ganas, makllum rumah nya tidak terlalu terang, dan terlalu banyak barang tak layak pakai sehingga menjadi sarang nyamuk. raka dengan lekas menghapus air mata nya dia takut ibu nya bangun dan melihat nya menangis. Dia pura pura terlelap dan menutup kepalanya dengan sarung kusut nya.


Kali ini ibu nya yang terbangun. dengan wajah lusuh ia menatap anak semata wayang nya yang berumur 25 tahun yang sedang tertidur pulas di selimuti sarung dia mendekati tangannya ke arah kepala anak nya, dia ingin mengusap usap kepala anak nya. Tapi dia urungkan niat nya itu dia takut anak nya terbangun. Sang ibu tersenyum sambil memasangkan selendang di kepalanya yang ada di dekat nya, tapi dia terkejut saat menyentuh selendang nya basah kuyup, dia bingung tak mengerti mengapa bisa basah kain kesayangannya itu. Tapi dia tak menghiraukan itu, dengan secepat kilat dia berdiri menuju suatu tempat. Mungkin dia mendengar suatu bisikan yang menyuruh nya beranjak ke suatu tempat.
Dia kembali terjaga saat dia mendengar langkah ibunya ke suatu tempat, dia bersyukur karena ibu nya tak ada lagi di sini, kemudian dia menangis sejadi jadi nya, sebebas bebasnya, sepuas puasnya. kemudian dia kembali melihat jendela namun kini sudah tak berembun walaupun cahaya mentari belum menyapa hari ini. Tatapan nya semakin kosong, pikirannya juga. Dia seperti orang amnesia yang tak mengenali diri nya sendiri. Seketika jendela itu berbicara dengan nada lantang "PECUNDANG"
Dia sangat terpukul mengapa teman setia nya berkata seprti itu pada nya.

Si ibu merasa inilah saat yang tepat untuk menyelesaikan masalah anak nya. Dia memastikan anak nya masih tertidur pulas. Dia gegabah, dia bingung, apakah ini saat yang tepat. setelah dia mengintip ke ruang sebelah dia mendapati anak nya sudah terbangun dan duduk di kasur lapuk nya. apakah ini saat yang tepat??
Si ibu tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk menuntaskan masalah anak nya itu. Sudah 25 tahun dia memikirkan jalan terbaik untuk sang anak tapi tak juga ada solusinya. dan menurut nya ini adalah jalan terbaik."Maaf kan ibu nak.... ibu terpaksa melakukan ini". Saat itu, pagi yang belum bersinar menjadi saksi kebodohan seorang ibu.
"PECUNDANG... PECUNDANG.... PECCUUNDANGGG............"
Jendela menghina dia. Dia akhirnya memukul jendela itu dan pecah bersama benci. Rembulan pun pecah, dan berganti menjadi mentari. Sekarang kekosongan dalam dirinya pun hilang. Dia berlari ke sebuah tempat, tempat yang kotor, tempat yang hina. Dia menemukan orang orang sudah tertidur pulas dengan pasangannya masing masing. Dia pun melihat sosok ibu nya di antara orang orang itu.
Kenapa ibu lakukan ini........
Ibu ingin melihat kamu bahagia nak......
Kenapa harus seperti ini....
Hanya ini yang ibu bisa nak....
Lalu kenapa ibu ingin aku bahagia.........
Karena selama ini kamu kosong...........
Ibu tak punya pendidikan apa-apa, tak ada yang bisa ibu lakukan nak..........
sedangkan kau adalah orang berpendidikan, tak ada juga yang bisa kamu lakukan.
Namun ini hanyalah sepenggal pengorbanan ibu padamu.

Baca Selengkapnya...

Toilet



Aku benci dengan kesempurnaan ini, walaupun tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini tapi aku merasahidupku sudah terlalu sempurna untuk ukuran seorang anak sulung di keluarga ku yang tionghoa. Ketiga orang adik ku yang dua orang perempuan dan yang satu laki laki, sangat menghargai ku seperti menghargai baba kusendiri. Sayang nya mereka tak pernah menghargai kesempurnaan ini.

Kehidupan ku sungguh sempurna, mungkin itu yang slalu jadi pembicaraan teman-teman ku, apalagi teman-teman pribumi. Tapi sangat tak di sangka kesempurnaan itu raib hanya dalam waktu yang singkat. Semuanya akan hilang hari ini tanpa di duga duga. Harta, hingga nyawa semuanya habis hari ini, semuanya akan hilang, semuanya akan tiggal masa lalu yang kelam dan susah di lupakan. Namun masih ada yang terselamatkan dari kejadian hari ini. dan yang menyelamatkan adalah sesuatu yang paling ku benci yang ada di rumah mewah ini, sebuah ruangan kusam yang tak layak di pakai lagi dalam rumah ini karena memang sudah ada penggantinya yang lebih baik dan aku sangat senang dengan ruangan yang selalu basah ini. Tapi justru ruangan kusam itu lah yang menjadi saksi hilang nya lima nyawa dan dan menjadi penyelamat satu nyawa. Ruangan kotor dan mejijikan itu akhirnya akan bercerita tentang begitu singkat nya kesempurnaan yang telah di capai dengan upaya yang panjang akan hilang, ruangan sumpek dan yang paling ku benci sejak aku masih kecil, ruangan itu bernama TOILET.

Hari ini aku bolos kuliah dan aku iseng ke gadget shop di kawasa elite LA BONTE. mencari handphone terbaru karna handphone lama sudah mulai jelek. Aku mengendarai jaguar kesayangan ku hari ini berhubung mersedez ku masuk bengkel. Sesampainya di rumah aku melihat baba,mamah,jenny,awie,dan lena. Tak biasanya aku melihat kejadian ini, siang-siang begini biasanya mereka sibuk dengan dunia mereka. Biasanya baba sibuk dengan proyek nya, mamah sibuk dengan berbagai organisasi dan paguyuban tionghoa,jenny sibuk dengan dunia modeling nya, awie juga biasanya slalu di luar jika siang-siang begini bersama teman-teman tim futsal nya, sementara lena lebih sering di sekolah nya. Tapi entah kenapa hari ini mereka ngumpul di rumah, di tambah lagi kepulanganku karena bosan di kampus. Ya Tuhan...... ini sungguh kebetulan. Baba menyapaku dengan bahasa hokian nya, "Tom...lu kok tumben pulang nya cepat" aku bilang lagi gak ada kuliah dan aku yakin baba percaya padaku. "Ko.... ini ada bir kesukaan koko, minumlah...." awie mengajak bergabung. Karena mood ku emang lagi jelek aku menolak ajakan mereka. aku lebih memilih mengurung diri di kamar dan sebaik nya aku harus mandi biar segar.

Sialll....... aku berbicara kotor dalam hati ku karena kesal air mati. Padahal tradisi keluarga ku adalah mandi menggunakan shower, jadi tak ada istilah menampung air di bak. Kekesalan ku menumpuk karena tiba-tiba AC di kamarku mati. Ahhh......... aku mengeluh pada diri sendiri. aku turun kebawah berharap kamar mandi di dapur bisa hidup tapi hasilnya sama saja, mati. Aku heran dengan cara kerja orang-orang yang ada di PAM sana, gak becussss........ karena sudah tak tahan lagi gerahnya, aku teringat dengan ruangan di sebelah gudang, ya mau tak mau aku akan menggunakan toilet. Toilet masih ada sebuah sumur yang menyeramkan yang paling aku benci, dan aku memutuskan untuk mandi di toilet, sambil menggenggam handphone aku beranjak ke toilet.

Oh......my god!!! tempat ini benar-benar menjijikan, ruangan nya pengap, gelap, bauk, dan......ah!!!!! lebih baik aku tak mandi saja, aku heran kenapa keluarga ku masih mempertahankan ruangan ini. Tapi aku benar-benar gerah siang ini, ya sudah lah akhirnya aku masuk di ruangan yang tiap sudut nya di penuhi dengan sarang labalaba. Ketika pertama kali ku injakan kaki ku di ubin toilet ini, aku hampir terpeleset jatuh karena lantainya terlalu licin, ku perhatikan sekitar ruangan ini benar-benar tak layak di gunakan, tempat ini lebih pantas di sebut sarang para iblis, dazzal, dan luzifer. Aku tak mau berlama lama disini, aku melangkah menuju sumur dan mulai menimbah air nya, otak ku tersihir jauh ke neraka ketika mataku melihat kebawah sumur yang gulita dan pekat, mungkin sumur ini sudah tak ada air nya karena sudah terlalu lama tak dipakai candaku dalam hati. Saat aku tengah membasahi badan dengan air hasil timba ini tiba-tiba aku mendengar suara jeritan lena, adik bungsuku melengking bukan main, dia berteriak ammpuun......... tak lama kemudian aku mendengar suara mama berkata "ambillah apa yang kalian mau, tapi tolong jangan kalian sakiti kami" tapi di sambut dengan suara tembakan dttoorrrr........... aku membuang timba dan menghentikan mandiku. Aku tegang, apa yang sebenarnya terjadi dengan mamah dan lena? lalu dimana baba,awie,dan jenny? akuy hanya terpaku di dalam toilet, bertanya apakah yang sedang terjadi.......... tiba-tiba aku mendengar langkah yang begitu cepat seperti orang kejar-kejaran, aku semakin tegang sayup-sayup aku juga mendengar suara baba di iringi pemukulan yang begitu jelas terdengar. Pandanganku mengarah pada handphone mencoba menelfon jenny apa yang sebenarnya terjadi........ tapi ku urungkan niat ku, mungkin mereka juga menyelamatkan diri dan aku tak mau mereka ketahuan hanya karena nada dering hanphone, namun seketika handphone ku bergetar dan aku segera membukanya sebelum nada dering berbunyi. Ada sms dari awie............ "koh........ selamatin diri lu" aku semakin yakin ada yang tak beres di rumah ini. Aku membalas sms awie "apa yang sedang terjadi? kalian gak papa kan?" beberapa menit kemudian sms ku di balas "tinggal kamu yang belum mati, semua harta kami harus dikembalikan" tubuh ku kaku setelah membaca sms balasan itu, jantung ku tak terdeteksi lagi kecepatan degubannya, sekujur tubuh keringat dingin, otak ku hampir tak bisa berfikir, aku ingin keluar saja menantang orang-orang bajingan itu. Mereka telah membunuh semua keluarga ku dan mereka tengah mengincarku aku harus bunuh mereka, aku harus balas perbuatan mereka. Apa salah kami.

Di dalam toilet tua ini aku berlindung dari orang-orang bajingan itu, aku semakin yakin bahwa aku harus keluar dan menantang mereka, lagian aku tak mau membiarkan keluargaku mati sendirian, aku siap mati untuk mereka, aku tak bisa berlama lama di toilet ini, aku tak boleh jadi pengecut yang bersmbunyi di toilet ini. Ketika aku akan beranjak dan menggenggam tuas pintu seakan akan toilet ini bicara padaku, toilet tua ini sepertinya melarang ku. Saat aku segera melangkah aku terpeleset dan terjungkit ke bawah. Aku hanya bisa diam dan diam. Aku menunggu situasi apa yang selanjutnya terjadi. Kembali terjadi langkah-langkah misterius, aku mendengar suara tembakan demi tembakan ke sesuatu benda. Apa sebenar nya terjadi tanya ku dalam hati, dari langkah-langkah yang kudengar aku bisa tebak berapa orang yang sedang mengobrak abrik rumah ku, mereka sekitar tujuh orang. Aku hanya bisa mondar-mandir di toilet busuk ini, aku galau tak mengerti apa yang harus kulakukan, yang paling penting saat ini adalah aku harus bertahan di dalam toilet ini agar tak terdeteksi oleh mereka.
Aka mengintip dari lubang kunci pintu, aku melihat sesuatu yang tak ku sangka-sangka. Aku melihat mamah di gantung terbalik dengan sebuah karet ban di kakinya, ya ampun bagaimana pula dengan kondisi babah dan adik-adik ku???

Aku terduduk di lingkaran sumur tua, memperhatikan sekitar ruangan yang pengap ini, rasa tegang masih meliputi diri, tapi entah mengapa aku tiba-tiba merasa aman di tempat ini. Aku sudah tak peduli dengan apa yang mereka lakukan di rumah ku ini, aku tak peduli mereka menghabisi semua harta keluarga ku, hanya saja aku sulit melupakan apa yang sudah terjadi dengan keluarga ku.
Sudah hampir dua jam aku di tempat ini, jiwa dan otak ku masih saja guncang, langkah-langkah misterius itu masih belum hilang. Aku heran apa yang di cari mereka lagi, dan sebenar nya atas dasar apa mereka melakukan ini di siang-siang bolong pula. Dari pertanyaan itu, tiba-tiba mataku menangkap sebuah benda yang tergantung di dinding ujung sana. Aku meraih benda yang seperti laci itu, kubuka dengan rasa penasaran yang ternyata isinya adalah foto-foto lama keluargaku, foto ketika aku masih bayi, foto babah saat masih jadi pedagang barang-barang bekas, ada juga foto mamah sedang menyusui awie, dan yang paling berkesan adalah foto kami sekeluarga ketika aku dan adik-adik ku masih kecil. Aku duduk diantara mamah dan babah dimana mereka masing-masing memangku awie dan jeni, sementara lena masih dalam perut mama. Aku terharu melihat foto-foto kenangan ini, aku blum pernah sama sekali melihatnya seumur hidup ku. Aku sangat mencintai keluarga ku, dan tanpa sengaja air mataku jatuh menetes di ubin toilet.

Saat aku terhanyut oleh kenangan-kenangan keluarga ku, aku mendengar langkah antagonis menuju toilet ini. Huuussss........... darah ku semakin terasa tak mengalir kali ini, aku akan mati.......pasti aku akn mati kali ini!!!! Aku bersiap siaga dengan kotak foto-foto tadi, aku siap menghadapi orang ini walau hanya dengan sebuah kotak kecil yang mungkin bisa menggegerkan otak nya jika aku mendaratkan nya tak setengah-setengah. Dia semakin mendekat, dan makin dekat........ aku merasakan kaki dia sudah ada di depan toilet, dan kini dia pasti sudah siap mendobrak nya. Namun saat yang bersamaaan kerabat nya memanggil dan berkata "woii..... di sebelah ada cina juga lebih kaya........"
aku berasumsi dalam dua menit mereka pasti sudah meninggalkan rumah ini dan menuju rumah yang dibilang nya tadi. Aku mulai memberanikan diri keluar, kubuka pintu pelan-pelan seraya melangkah pelan-pelan juga. kuperhatikan rumah ku sekarang sudah menjadi tempat angker yang menyeramkan, pemandangan yang ku saksikan benar-benar membuat ku mendendam dan miris. darah bercecer dimana mana, rumah ku hampir kosong akan semua benda. Aku melihat mayat lenna adikku yang masih SMP di telanjangi dengan tubuh yang penuh darah, awie lebih mengenaskan tubuhnya separuh terbakar, mandadak aku menjadi melankolis melihat situasi ini........
Aku takkan lupa akan kejadian ini, kejadian dimana semuanya yang kumiliki habis dalam sekejap, semuanya yang di dapatkan babah dengan perjuangan mulai dari titik nol sebagai pedagang barang bekas raib begitu saja. Kejadian ini tak akan pernah kulupakan di sepanjang usia ku, mata ku menuju kalende,. 14 Mei 1998, menjadi sebuah hari keramat yang menyisakan ketidakadilan.

Dari luar aku melihat masa menuju kemari, dan kali ini lebih banyak lagi, lebih berani, dan lebih antagonis. aku spontan berlari. Aku tak tahu harus apa lagi, tak ada perlindungan di sekitar sini, Toilet.......hanya toilet itu yang bisa menyelamatkan aku, dan aku berlari secepat kilat menuju toilet.

Aku tak tahu harus berapa lama aku bertahan disini, tempat ini sungguh berarti bagiku saat ini, dan semoga akan berarti seterusnya. Telingaku kembali mendengar serbuhan orang-orang yang tak bertanggung jawab menjarahi isi rumah ku, rasa tak mengerti kembali di otakku, mengapa ini terjadi.
Mataku mulai terpejam perlahan, aku harap ini hanya rasa kantuk yang mendalam dan semoga aku masih bisa terbangun lagi di tempat ini di tempat yang ku benci namun berbaik hati melindungi ku,
di Toilet.

Baca Selengkapnya...