Lagi-lagi ajang penghargaan film Indonesia yang dulu terkenal super bergengsinya, FFI menuai kontroversi karena dianggap tak objektif dalam menilai film-film yang akan berlaga meraih Citra tahun ini. Salah satu yang membuat berang insan perfilman tanah air adalah tak lolosnya biopic Ahmad Dahlan dalam Sang Pencerah. Dan yang lebih konyol lagi, komite seleksi menyatakan tidak lolosnya Sang Pencerah karena ketidakakuratan sejarah. Sungguh alasan yang mengada-ada. Padahal tak ada satupun film sejarah Indonesia yang dijamin murni kebenarannya. Alasan aneh inilah yang semakin membuat FFI tak lagi seprestisius dahulu. Well, sudahlah.. Tak usah berlarut-larut meributkan dan memperpanjang hal itu, kita berdoa saja semoga orang-orang FFI dapat mengkoreksi diri demi mengembalikan nama baik festival tertua negeri ini.
Seperti biasa menjelang akhir tahun saya pun punya ritual yang hampir sama dengan Komite Festival Film Indonesia. Kalau FFI mengadakan festival untuk memberikan penghargaan secara fisik, saya hanya merekap film-film terbaik tahun ini dari segala elemen. Dan kalau FFI hanya menilai film-film yang mendaftarkan diri saja dan hanya memasukan 10-15 film pilihan saja dalam nominasi, maka saya menilai seluruh film bioskop yang beredar dari Desember 2009 hingga sekarang tanpa pengecualian. Dan para nominasi yang masuk adalah penilaian maksimal dan obyektif dari saya sebagai pecinta film nasional. Tak peduli dan tak mau tau dengan apa yang menjadi patokan penilaian orang FFI. Tak ada kepentingan politis disini (Halah.. Kegeeran deh, kayak saya politikus ajah. Lagian kepanjangan sekapur sirih-nya, langsung aja napa, mana nominasinya!? Jleebbb..) Okey.. Masih sama seperti tahun lalu, saya membuat beberapa kategori yang diisi oleh lima nominasi dan yang bercetak tebal adalah pilihan terbaik atau bahasa awards-nya peraih penghargaan (Penghargaan yang diberikan adalah saya akan mengenang film itu dalam sejarah kehidupan saya). Dan kalau ada film yang tak menang itu ga akan kulupakan kok, masuk nominasi ajah udah hebat, hihihi.. Lalu dengan film-film yang sama sekali tidak masuk nominasi, yah karena itu yang pantas. Tidak terlalu banyak film berkualitas di negeri ini. Ntar ajah kalo Nayato CS bikin awards sejenis, kalian pasti masuk, Wuakakaka.. Untuk itu.. (Stop Jun! Ga usah sok ngelucu. langsung aja mana film-film yang masuk kategori. Ga usah banyak basa-basi deh cuiin..) Baiklah.. Sepertinya udah ga sabar melihat film-film apa saja yang berjaya tahun ini versi Junior. Berikut hasilnya..
1. Tata Artistik Terbaik :
1. Eros Eflin (Madame X)
2. Rico Marpaung (Minggu Pagi di Victoria Park)
3. Allan Sebastian (Sang Pencerah)
4. Timoti D. Setyanto (Tanah Air Beta)
5. Mo Brothers (Rumah Dara)
2. Tata Sinematografi/Gambar Terbaik :
1. Yadi Sugandhi (Minggu Pagi di Victoria Park)
2. Ical tanjung (Tanah Air Beta)
3. Muhammad Firdaus (Rokkap)
4. Roy Lolang (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
5. Faozan Rizal (Sang Pencerah)
3. Tata Suara Terbaik :
1. Khikmawan Santosa (I Know What You Did on Facebook)
2. Khikmawan Santosa (Rumah Dara)
3. Satrio Budiono (Sang Pencerah)
4. Khikmawan Santosa (Aku Atau Dia)
5. Adityawan Susanto - Novi Black (Alangkah Lucunya Negeri Ini)
4. Editing terbaik :
1. Tito Kurnianto (Alangkah Lucunya Negeri Ini)
2. Aline Jusria (Minggu pagi di Victoria Park)
3. Wawan I. Wibowo (Sang Pencerah)
4. Andhy Pulung (Hari Untuk Amanda)
5. Robin Moran (Madame X)
5. Tata Musik Terbaik :
1. Aksan Sjuman-Titi Sjuman (Tanah Air Beta)
2. Tongam Sirait (Rokkap)
3. Thoersi Argeswara (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
4. Aksan Sjuman-Titi Sjuman (Minggu Pagi di Victoria Park)
5. Tya Subyakto (Snag Pencerah)
6. Skenario Terbaik :
1. Musfar yasin (Alangkah Lucunya Negeri Ini)
2. Benni Setiawan (3Hati 2 Dunia 1 Cinta)
3. Titien Wattimena (Minggu pagi di Victoria Park
4. Salman Aristo (Hari Untuk Amanda)
5. Rano Karno (Satu Jam Saja)
7. Poster Film Terbaik :
1. Sang Pencerah
2. Rumah Dara
3. Madame X
4. I Know What You Did on Facebook
5. Heart 2 Heart
8. Pendatang Baru Terbaik :
1. Kimmy Jayanti (I Know What You Did on Facebook)
2. Tika Bravani (Alangkah Lucunya Negeri Ini)
3. Giring Ganesha (Sang Pencerah)
4. Griffit Patricia (Tanah Air Beta)
5. Afgansyah Reza (Cinta 2 Hati)
9. Soundtrack terbaik :
1. Satu Jam Saja by Karmela (Satu Jam Saja)
2. 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta by Ghaury (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
3. Menebus Impian by Zona (Menebus Impian)
4. Cinta matiku by Mantra feat Keroncong Suropati (Rumah Dara)
5. Dawai Asmara by Ridho Roma (Dawai 2 Asmara)
10. Aktor Pendukung Terbaik :
1. Andika Pratama (Satu Jam Saja)
2. Deddy Mizwar (Alangkah Lucunya Negeri Ini)
3. Asrul Dahlan (Alangkah Lucunya Negeri Ini)
4. Rasyid Karim (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
5. T. Rifnu Wikana (Darah Garuda)
11. Aktris Pendukung Terbaik :
1. Eva Asmarani (Bahwa Cinta Itu Ada)
2. Ria Irawan (Madame X)
3. Ayu Dyah Pasha (Menebus Impian)
4. Imelda Therine (Rumah Dara)
5. Atiqah Hasiolan (Darah Garuda)
12. Lifetime Achievement :
==Mieke Wijaya==
13. Sutradara Terbaik :
1. Hanung Bramantyo (Sang Pencerah)
2. Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
3. Deddy Mizwar (Alangkah Lucunya Negeri Ini)
4. Lola Amaria (Minggu Pagi di Victoria Park)
5. Angga Dwimas Sasongko (Hari Untuk Amanda)
14. Aktor Utama terbaik :
1. Reza Rahadian (Alangkah Lucunya Negeri Ini)
2. Reza Rahadian (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
3. Aming Gugandhi (Madame X)
4. Lukman Sardi (Sang Pencerah)
5. Lukman Sardi (Red Cobex)
15. Aktris Utama Terbaik :
1. Alexandra Gotardo (Tanah Air Beta)
2. Fanny Fabrina (Hari Untuk Amanda)
3. Sherefa Dannish (Rumah Dara)
4. Kinaryosih (Rokkap)
5. Titi Sjuman (Minggu Pagi di Victoria Park)
16. Film Terbaik :
1. 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (Mizan Production)
2. Alangkah Lucunya Negeri Ini (PT. Citra Cinema)
3. Minggu Pagi di Victoria Park (Pick Lock Site production)
4. Sang Pencerah (MVP Pictures)
5. Tanah Air Beta (Alenia Pictures)
Ada beberapa kategori yang diisi oleh nominator yang sama, ini membuktikan kekonsistenan meraka dalam menjaga kualitas dikaryanya. Dan saya menjatuhkan pilihan film terbaik pada Sang Pencerah dikarenakan secara kseluruhan film itu mampu menggambarkan dengan baik perjalanan KH. Ahmad Dahlan semasa muda hingga mendirikan Muhammadyah. Dan pun cerita yang disampaikan tidak menggurui tapi mampu menyentuh hati dan logika penonton. Bukan hanya itu secara tehnis film ini benar-benar indah dipandang. Peluang paling besar juga dimiliki Minggu Pagi di Victoria Park, namun sepertinya kali ini Lola Amaria cukup meraih predikat sutradara terbaik saja dan filmnya cukup masuk nominasi. Sementara Alangkah Lucunya Negeri Ini berada dibawah garapan Lola, padahal cerita yang ditawarkan sungguh menjanjikan, tapi ada sedikit hal yang membuat nilai Alangkah Lucunya Negeri Ini berada dibawah Minggu Pagi di Victoria Park, yaitu kemasan sinematografinya. Semoga tak bosan Hanung Bramantyo memberikan tontonan yang bermanfaat. Semoga Deddy Mizwar tak hanya berkutat pada film-film satir saja. Semoga saja Lola Amaria masih betah membuat film 'berisi' walau filmnya ini tak begitu laku secara komersil. Dan semoga para sineas terus semangat dalam menelurkan film-film yang tak hanya memenuhi standar kuantitas tapi juga berkualitas. Karena semakin hari semakin banyak penonton film Indonesia yang cerdas dan membutuhkan tontonan yang tak hanya menghibur namun berbobot. Dengan diadakannya penghargaan terhadap film seperti FFI dan sejenisnya seharusnya menjadi acuan untuk menghasilkan karya yang mutakhir.
Saya menyusun deretan terbaik ini lengkap dengan nominasi di masing-masing unsur film, bukan untuk ikut-ikutan atau sok menyibukan diri dan supaya dibilang pemerhati film. Tapi ini murni apresiasi pecinta dan penikmat film atas karya-karya para sineas setiap akhir tahun. Akhirnya semoga ini menjadi tradisi setiap tahunnya di blog saya dalam menerjemahkan satu persatu hasil kinerja para moviemaker. Dan tak lupa sekali lagi, untuk menyalakan semangat film nasional untuk dihargai dibangsanya sendiri, mari kita teriakkan...
Majulah Perfilman Indonesia!

Sutradara : Aditya Gumay
Pemain : Atik Kanser, Reza Rahadian, Didi Petet, Henidar Amroe
Genre : Drama
Bahasa : Indonesia
Rilis : 2009
Apa yang anda harapkan ketika menonton film bertema cita-cita dan impian, tentu saja dengan ending yang membahagiakan ketika si tokoh utama meraih impiannya itu, bukan? Begitupun dengan Emak Ingin Naik Haji. Tapi justru bayangan itu sedikit naik turun seiring berjalannya alur film. Betapa tidak, karena sesungguhnya film ini bukan melulu menceritakan sosok emak dengan segenap harapannya untuk dapat melaksanakan kunjungan ke rumah sang Khalik. Ada subplot yang diselingi Aditya Gumay sebagai sutradara, untuk menambah harmonisasi cerita dan konflik agar terasa maksimal. Namun kesemuanya itu terasa sedikit sinetron walaupun kelihatan betul usaha aditya untuk menunjukan film ini jelas levelnya diatas sinetron dengan disuguhkannya dialog-dialog kritis. Mengharukan memang, namun terasa tanggung.
Mungkin masih jelas diingatan kita sebuah FTV di satasiun televisi swasta yang mengisahkan hal serupa, mengenai seorang tukang bubur yang punya impian ingin naik haji, dan hasilnya tokoh yang diperankan mat solar itu pun dapat memenuhi keinginannya bahkan turut serta memboyong istri dan orangtuanya ke tanah suci. Di Emak Ingin Naik Haji, hal mirip digambarkan pada tokoh Zen, yang menyambung hidupnya sebagai pedagang lukisan keliling, bercerai dari istrinya hingga setelahnya tinggal bersama sang emak. Emak (yang diperankan sangat natural oleh Atik Kanser), adalah seorang penempah kue pesanan mempunya cita-cita melaksanakan ibadah haji ditengah keadaan yang tidak memungkinkan, untuk itu emak hanya bisa menatap dan menyentuh ka'bah melalui lukisan anaknya, Zen. Namun ketidakmungkinan inilah yang mengantarkan penonton pada ending yang tak terduga. Dari awal kita sudah disuguhkan usaha keras Zen untuk mengabulkan keinginan emak, namun ternyata bukan upaya tulus Zen yang mengakhiri kisah mengharukan ini.
Disela-sela usaha keras Zen dan Emak, Aditya memasuki ruangan yang sarat kritik melalui dua subplot singkat yang tentu berhubungan dengan kisah emak. Ada seorang calon walikota genit yang hendak menunaikan haji demi kepentingan kampanye. Lalu ada sebuah keluarga kaya raya, yang juga tetangga emak, yang sudah berkali-kali melaksanakan haji dan umroh. Di subplot kedua inilah Aditya berusaha untuk kritis, namun tetap terasa tanggung. Misalnya ketika tokoh anak si keluarga kaya mempertanyakan hukum mengenakan emas bagi laki-laki berbeda di al-quran dan di hadist, dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan mengkritisi melalui tokoh si anak tadi, tak kecuali soal keberangkatan haji keluarganya yang lebih didasari gaya-gayaan lantaran keikutsertaan seorang artis. Dan kesemua pertanyaan itu akhirnya diselesaikan tokoh ustad (yang diperankan Jefri Al Bukhori) di penghujung film dengan kembali mempertanyakan sumber pertanyaan si anak yang kemudian dijawab dari internet. Cukup sampai disitu, tak ada penjelasan lebih lanjut, sang ustad hanya memberi nasihat : kamu harus lebih banyak belajar.
Disamping hal-hal tanggung itu tadi, kisah yang diangkat dari cerpen Asma Nadia ini sebenarnya sudah cukup apik dengan dapat membuat saya meneteskan airmata, namun jika digarap lebih baik lagi, harusnya perjuangan ibu dan anak yang menjadi tokoh sentral di film ini dapat menguras emosi dan airmata penonton lebih menganaksungai, tak cuma setetes dua tetes airmata. Akting para pendukung film ini juga cukup baik, sang sutradara tau betul menempatkan posisi masing-masing artisnya, walaupun para figuran sedikit mengganggu karena familiarnya wajah mereka di panggung lenong, jelas saja Aditya menggunakan anak didiknya dimana dia tak lain adalah bos para jebolan lenong bocah.
Yang menarik adalah akting Henidar Amroe, meski tampil sekilas sebagai istri calon walikota, aktris peraih citra 2009 ini sangat dapat mengaduk emosi penonton dengan ekspresi marahnya. Dan yang paling berhasil membuat film ini cukup mengharukan tentu saja Atik Kanser dan Reza Rahadian (yang memerankan tokoh Zen) yang mampu membuat penonton menjadi melankolis, ditambah dengan alunan vokal indah Jefri Al Bukhori, menambah kesenduan tiap-tiap adegannya. Mungkin berkat mereka berdualah film ini menjadi berarti, chemistry yang dibangun benar-benar natural, bahkan kedekatan mereka sepintas membuat kita rindu dengan ibu, rindu ingin memeluknya, ingin membahagiakannya, apalagi menaikhajikannya.
Pesan moral dalam film yang banyak meraih penghargaan ini pun terasa pada penonton walau di rasa tak menggurui, terlebih lagi mengingat semua usaha Zen sampai-sampai ia harus mengikuti undian berhadiah naik haji demi memenuhi keinginan ibunya. Penonton pasti setuju mengatakan ending film adalah ketika Zen memenangi undian itu dan segera memberangkatkan emak ke tanah arab. Namun tebakan itu salah, sebuah kecelakaan yang mempertemukan si calon walikota dan emak, menggagalkan kemenangan undian itu. Walau pada akhirnya film ini happy ending, namun meninggalkan bekas pada penonton bahwa teruslah berikhitar untuk meraih impian, apapun itu, jika mengingankan sesuatu imbangilah dengan kerja keras, dan apabila tak kunjung tercapai, percayalah semua usaha keras itu akan terjawab dari arah yang tak terduga. Sama seperti imipian emak, yang ternyata datang dari arah yang tak pernah dibayangkan.
Overall... meski banyak kecacatan yang tak disengaja lantaran 'tanggung' nya aditya dalam mengeksekusi dialog film keluarga ini, tak salah saya merekomendasikan film ini sebagai sajian hangat untuk para moviegoers, dari kalangan apapun itu, tak hanya kaum muslim, karena film ini berbicara ke hal yang lebih luas, menganai impian dan harapan.
3 out of 5 stars.
*JPL*

Sutradara : Nick Cassavetes
Pemain : Cameron Diaz, Abigail Breslin, Sofia Vassilieva, Jason Patric, Alec Baldwin
Genre : Drama
Bahasa : Inggris
Rilis : Juni 2009
Semua orangtua akan berusaha melakukan yang terbaik untuk anaknya. Segala upaya akan ditempuh demi mengatasi sesuatu yang dianggap bermasalah terhadap sang buah hati. Terlebih lagi permasalahan itu muncul dari sebuah penyakit ganas yang tertanam sejak kecil. Pasti! Orangtua manapun pasti akan rapuh menghadapi kenyataan salah seorang anaknya mengalami penyakit serius bahkan mematikan. Berbagai alternativ dicoba untuk menyudahi penyakit itu, mulai dari obat penenang, penahan rasa sakit, hingga upaya pendonoran organ tubuh. Namun sebuah kenyataan baru menjadi permasalahan baru pula, bahwa sejatinya pun ayah kandung, ibu kandung, dan saudara kandung tak menjamin kecocokan human leukocyte antigen (HLA) terhadap keturunan lain -hanya ada 1 dari 200 kemungkinan- hingga opsi pendonoran yang direncanakan orangtua pun mustahil dilakukan. Tapi sekali lagi bahwa ikhitar orangtua bisa menembus segalanya demi kenormalan anaknya. Maka solusi baru pun ditemui, dengan saran dari dokter untuk membuat keturunan baru secara instan guna memastikan kecocokan HLA untuk si anak. Dengan menyatukan sperma dan sel telur maka dapat dilakukan diagnosis preimplentasi genetik untuk menyeleksi embrio mana yang cocok dengan genetik si anak. Dan dilaksanakanlah program bayi tabung.
Seperti itulah sedikit gambaran film My Sister’s Keeper besutan sutradara Nick Cassavetes. Anna (Abigail Breslin), diusia pra remajanya menyewa pengacara nomor satu di California untuk menuntut kedua orangtuanya ke meja hukum lantaran sudah merampas hak atas tubuhnya seumur hidup, sementara kedua orangtua Anna mengelak dengan dalil bahwa usia yang berhak memutuskan adalah 14 tahun, sementara Anna masih berusia 13 tahun. Anna dilahirkan dari program bayi tabung untuk dijadikan cadangan kakaknya, Kate yang menderita leukemia akut. Sejak lahir Anna sudah mengalami pengambilan darah tali pusat, transfusi sel darah putih, sumsum tulang belakang, limposit, suntikan untuk menambah sel, dan kemudian diambil kembali untuk diberikan pada Kate. Seperti itulah Anna menjalani hidupnya, lahir untuk dijadikan sebagai suku cadang untuk sang kakak. Seperti yang diungkapkannya, bahwa ia tak akan lahir jika kakaknya tak sakit.
Masalah semakin rumit ketika ginjal Kate (Sofia Vassilieva) rusak. Itu artinya ginjal Anna segara diambil satu. Disinilah puncaknya Anna memberontak, rasa cintanya terhadap sang kakak tak pelak harus membuatnya menidaknyamankan diri. Dan ia pun menemui pengacara ternama, Alexander ( Alec Baldwin). Konflik yang menjadi penting selain konflik batin atara kakak beradik Kate-Anna, tentunya berada dibagian pengadilan dimana penuntut bertemu tertuntut. Ibu Anna, Sara (Cameron Diaz) yang di interogasi hakim atas laporan puteri kecilnya menjadi adegan yang membuat kita terengah-engah atas dialog-dialog tajam namun menyentuh. Disini pula lah kenyataan baru terkuak, ada motivasi lain dari Anna atas tuntutannya itu.
Film yang diangkat dari novel best seller Jodi Picoult ini dapat dikatakan sangat menguras airmata. Kualitas nyatanya dapat dirasakan dari unsur yang selain menghibur tentu saja juga sarat pesan moral. Meninggalkan kesan bahwa tak seharusnya orangtua mengotak-ngotakan kualitas anak sehingga muncul kata penting dan tidak penting. Bahwa hakikatnya sang anak juga punya hak, punya kebebasan memilih, punya impian. Sekalipun itu bayi rancangan (meminjam istilah Anna yang kerap kali ia katakan) berdasarkan program bayi tabung, seharusnya dapat disadari bahwa sekarang ini ia adalah manusia bernyawa yang memliki akal fikiran.
Walau sebegitu hebatnya pun kualitas dan esensi cerita yang ditawarkan gambar bergerak ini justru tak diikuti oleh akting yang prima dari bintang yang menjadi jualan film ini. Ya, akting Cameron Diaz, salah satu aktris termahal Hollywood ini rasanya tenggelam oleh kualitas akting dari dua bintang utama lainnya, Sofia Vassilieva dan Abigail Breslin. Lieva yang penampilan bersinarnya didukung oleh make up yang sangat luar biasa mampu menyentuh hati penonton tanpa ia bicara sekalipun. Ditambah dengan totalitas memplontoskan kepalanya membuat aktris muda ini paling berpengaruh menguras hati sebagai pengidap leukemia. Breslin pun demikian, tak diragukan lagi bahwa gadis berusia 14 tahun ini sudah menjadikan adegan berceceran airmata sebagai sarapannya. Pernah berpeluang meraih predikat aktris pendukung terbaik di oscar ke 79 lewat penampilan ciamiknya di Little Miss Sunshine, semakin membuatnya bisa membuktikan diri bahwa ia pun layak diperhitungkan dikancah perfilman dunia lewat My Sister’s Keeper. Namun tidak setali tiga uang dengan Diaz, salah satu personil di film jagoan seksi Charlie’s Angels ini justru tak sebaik junior-nya, disini Diaz terkesan berakting labil. Disatu scene ia menampilkan performa hebat, namun di scene lain ia terkesan berakting nanggung. Padahal dialah yang jadi jualan utama film produksi New Line Cinema ini.
Namun secara keseluruhan film ini sangat patut diapresiasi melihat kualitas dan ceritanya. Meski tak diperhitungkan di ajang Academy Awards tahun lalu, Film yang skenarionya ditulis Jeremy Leven (yang juga mengadaptasi novel fenomenal The Notebook) ini, sungguh tak salah untuk saya rekomendasikan buat anda yang membaca review ini. Terlebih penekanan inti di film ini adalah mengemukakan bahwa seorang anak juga punya hak, dan juga menggambarkan betapa segalanya akan ditempuh orangtua sebagai pengejawantahan kasih sayang untuk kebahagiaan anak-anaknya walaupun terkadang melampaui akal sehat.
3 out of 5 stars.
*JPL*
Sutradara : Tom Tykwer
Pemain : Ben Whishaw, Francesc Albiol, Gonzalo Cunill
Genre : Drama - Triler
Bahasa : Inggris
Rilis : 2007
Film ini diangkat dari sebuah novel best seller dengan judul yang sama. Murni fiksi memang, namun fiksi yang satu ini cukup unik, berani, dan bagi sebagian orang akan merasa menakutkan. Kisah yang berseting Perancis pada abad ke-18 ini mengusung tema drama triler dengan segala ketidakmasukakalannya walaupun sebenarnya menggunakan penceritaan yang sangat dekat dengan realita.
Sama seperti adikarya kebanyakan yang diangkat dari sebuah novel, film inipun menggunakan narator sebagai pemandu penonton selama film berjalan. Film pun bergerak mulus dengan menggunakan konsep tiga babak pada umumnya, yakni pengenalan tokoh, munculnya masalah, dan penyelesaian masalah. Film dibuka dengan kemunculan sosok pria lusuh dalam sel menanti hukuman, dan beberapa detik kemudian narator akan menarik penonton ke masa silam untuk menceritakan siapa lelaki dalam tahanan itu dan permasalahan apa yang sedang dihadapinya.
Diawal pemutaran, film ini berjalan sangat cepat untuk mengenalkan pada kita riwayat lelaki tadi. Dikisahkan Jean Baptiste Grenouille, lahir ditempat pembuangan ikan dari rahim seorang pedagang ikan pula disebuah pasar yang jorok dan penat. Si ibu berniat membuang Jean, namun sebelum maksudnya itu terlaksana para pengunjung dan pedagang pasar lainnya mencium niat busuk perempuan itu, lalu kemudian menghukum gantung dengan kasus pembuangan bayi.
Jean pun tinggal disebuah panti asuhan, tumbuh dengan diiringi kerasnya kehidupan di panti, mulai dari gangguan fisik hingga mental yang membuatnya lebih senang menyendiri. Dalam kesendirian itu pula Jean menemukan sebuah bakat luar biasa pada dirinya, yaitu penciuman yang sangat kuat. Dia dapat mendeteksi aroma bukan hanya dalam radius satu meter, dua meter, sepuluh kilometer, tapi hingga ratusan kilometer.
Kehidupan Jean semakin luntang-lantung ketika dijual dari tangan ke tangan, hingga akhirnya dia mengabdi pada lelaki tua peracik parfum ternama. Jean yang sudah dewasa belajar pada pak tua cara meracik parfum, dan dengan modal penciuman yang tajam dia bisa mengkombinasikan bahan-bahan parfume untuk menjadi wewangian luar biasa.
Pengenalan masalah pun muncul ketika Jean bereksperimen meracik parfume dengan caranya sendiri dan menggunakan lemak hewan sebagai medianya. Dari sinilah penonton mulai dikejutkan dengan pemandangan ’nyeleneh’ dari praktek pembuatan parfum ala Jean. Awalnya Jean menggunakan jasa PSK untuk melaksanakan uji cobanya ini, sang pelacur ditelanjangi dan seluruh tubuhnya diolesi dengan lemak yang sudah disediakan, namun wanita waras manakah, sekalipun itu pekerja seks mau diperlakukan dengan cara aneh terlebih lagi melihat perkakas Jean yang semuanya benda tajam. Disinilah mulanya Jean menjadi pembunuh berdarah dingin, karena si penjajah nafsu tadi membangkang, sontak Jean membunuhnya guna meraih obsesi wewangian dari tubuh wanita yang di deteksinya. Satu-persatu perempuan yang ada dikota itu dibunuh, ditelanjangi, digunduli, diolesi dengan lemak, lalu kemudian diserut kembali dengan alat kecil yang menyerupai arit. Lemak yang sudah dikikis dari keseluruhan tubuh korbannya, kemudian dicampurkan dengan alkohol, dipanaskan, lalu menghasilkan tetes demi tetes embun dari rebusan itu. Satu tubuh perempuan menghasilkan hanya beberapa mili liter cairan inti yang wanginya luar biasa.
Perbuatan Jean yang sudah membunuh 25 perempuan akhirnya diketahui pemerintah setempat, dan tanpa pikir panjang Jean pun dijatuhi hukuman mati. Pada saat pengeksekusian tiba, ribuan masyarakat dengan antusiasnya menyaksikan hukuman terhadap Jean. Ribuan masyarakat berbondong-bondong memenuhi lapangan tempat penghakiman Jean yang juga dipimpin seorang uskup. Namun siapkah anda pada adegan ini? Ketika Jean tiba dan siap di eksekusi, dia pun mengoleskan sedikit parfum racikannya ke leher dan saputangannya. Dan taukah apa yang terjadi? Semua hadirin yang ada di lapangan tiba-tiba seperti mabuk saat menghirup parfum sang pembunuh, satu persatu mereka menanggalkan pakaian, dan... terjadilah praktek seks massal, bahkan uskup agung pun melakukannya. Semua divisualisasikan secara ekstrem.
Film yang diadaptasi dari novel karya Patrick Suskind ini terbilang mengecewakan. Bukan semata-mata banyaknya adegan ’buka-bukaan’, toh kita sebagai dewasa menganggap hal itu bisa dimaafkan sesuai isi cerita. Namun begitu tidak masuk akalnya jika ribuan masyarakat terhipnotis hingga melakukan hal tak senonoh hanya karena menghirup parfume Jean, bahkan si pembunuh dianggap malaikat dan dibebaskan dari hukuman. Padahal jika kita perhatikan, begitu ”manusiawinya” film ini berjalan dari awal, namun justru ditutup dengan ending yang membuat kening mengkerinyit. Sungguh tidak masuk akal. Atas dasar apa hingga begitu besarnya efek aroma parfum yang diracik Jean menggugah nafsu birahi orang lain.
Maka tak salah pula banyak yang mengatakan film ini kurang berhasil memvisualisasikan cerita novelnya yang walaupun tetap vulgar namun lebih menakutkan, mengerikan, dan meneror pembaca. Sementara film ini hanya menampilkan cara membuat parfum kepada penonton disamping buka-bukaan tanpa ada kesadisan luar biasa seperti yang diharapkan.
Tidak terlalu memuaskan, apalagi bagi pecinta triler-slasher.
3 out of 5 stars.
*JPL*
Berikut ini adalah jajaran film indonesia yang beredar sejak Desember 2008 sampai dengan November 2009,yang menurut saya pantas di berikan awards karena kualitas dari segi cerita maupun tehnik. Banyak awards sejenis yang di anugerahi kepada insan perfilman indonesia seperti Indonesian Movie Awards, Mtv Indonesian Movie Awards, Festival Film Bandung, Fetival Film Bali, dan yang paling bergengsi adalah Festival Film Indonesia yang masih banyak mengundang kontroversi.
Saya sendiri sebagai pecinta film indonesia dan tak pernah mau melewatkan buat menikmati film-film dengan kualitas baik dari isi dan cara pembuatannya, punya penilaian dan persepsi sendiri buat menentukan deretan film-film yang unggul. Untuk itu saya pun menyusun film-film terbaik yang beredar seperti yang saya sebutkan di atas, sesuai dengan komposisinya masing-masing. Dengan gaya awards pada umumnya, saya pun memberikan lima nominasi di setiap kategorinya, dan yang bercetak tebal adalah yang terbaik diantara lima unggulan. Mau tahu film apa saja yang masuk nominasi? Siapa yang terbaik diantara lima unggulan? Film apa saja yang mendominasi kategori? Dan mau tahu penilaian versi saya yang peka terhadap perfilman indonesia (halaaah.... narsis, hahaha)? Inilah nominator untuk Anugrah Film Indonesia di sepanjang tahun ini (sekali lagi : ini menurut penilaian dan pengamatan saya, heheeee….).
1. Tata Artistik Terbaik
1. Budi Riyanto (under the tree)
2. Indra Tamorron (Ruma Maida)
3. Iqbal Marjono (serigala terakhir)
4. Oscart Firdaus (perempuan berkalung sorban)
5. Wencislaus (pintu terlarang)
2. Tata Gambar Terbaik
1. Faozan Rijal (perempuan berkalung sorban)
2. Ical Tanjung (ruma maida)
3. Ipung Rahmad Syaiful (pintu terlarang)
4. Rudi Kurwet (ketika cinta bertasbih)
5. Yadi Sughandi (under the tree)
3. Tata Suara Terbaik
1. Adityawan Susanto & Kahar (perempuan berkalung sorban)
2. Merah Putih Team (merah putih)
3. Merantau Team (merantau)
4. Khikmawan Santosa (3 doa 3 cinta)
5. Khikmawan Santosa (pintu terlarang)
4. Editing Terbaik
1. Andy Pulung (under the tree)
2. Cesa David Lukmansyah (get merried 2)
3. G.H Evans (merantau)
4. Sastha Sunu (3 doa 3 cinta)
5. Wawan I Wibowo (pintu terlarang)
5. Music Terbaik
1. Aghi Narotama (pintu terlarang)
2. Anto Hoed & Melly Goeslow (ketika cinta bertasbih 2)
3. Djaduk Ferianto (3 doa 3 cinta)
4. Tya Subyakto (perempuan berkalung sorban)
5. Khikmawan Santosa (ruma maida)
6. Cerita Terbaik
1. Jamilah Dan Sang Presiden
2. King
3. Merah Putih
4. Perempuan Berkalung Sorban
5. Ruma Maida
7. Skenario Terbaik
1. Ayu Utami (ruma maida)
2. Casandra Massardi (get merried 2)
3. Joko Anwar (pintu terlarang)
4. Nurman Hakim (3 doa 3 cinta)
5. Ratna Sarumpaet (jamilah dan sang presiden)
8. Aktor/Aktris Pendatang Baru Terbaik
1. Emir Mahira (garuda di dadaku)
2. Iko Uwais (merantau)
3. Oki Setiana Dewi (ketika cinta bertasbih 2)
4. Rangga Aditya (king)
5. Sisca Jesica (merantau)
9. Pasangan/Chemistry Terbaik
1. Atiq Cancer - Reza Rahadian (emak ingin naik haji)
2. Atiqah Hasiolan - Cristine Hakim (jamilah dan sang presiden)
3. Edo Borne - Sissy Pricilia (romeo juliet)
4. Fahri Albar - Marsha Timothy (pintu terlarang)
5. Iko Uwais - Yusuf Aulia (merantau)
10. Aktor Pendukung Terbaik
1. Frans Tumbuan (ruma maida)
2. Mamiek Prakoso (king)
3. Reza Rahadian (perempuan berkalung sorban)
4. Reza Pahlevi (serigala terakhir)
5. Yoga Pratama (3 doa 3 cinta)
11. Aktris Pendukung Terbaik
1. Francine Rosenda (perempuan berkalung sorban)
2. Ninik L Karim (ketika cinta bertasbih 2)
3. Rahmi Nurullina (ketika cinta bertasbih 2)
4. Sisca Jessica (merantau)
5. Widyawati (perempuan berkalung sorban)
12. Lifetime Achievement : Chaerul Umam
13. Sutradara Terbaik
1. Cherul Umam (ketika cinta bertasbih)
2. Garin Nugroho (under the tree)
3. Hanung Bramantyo (perempuan berkalung sorban)
4. Joko Anwar (pintu terlarang)
5. Upi (serigala terakhir)
14. Aktor Utama Terbaik
1. Fahri Albar (pintu terlarang)
2. Iko Uwais (merantau)
3. Nicholas Saputra (3 doa 3 cinta)
4. Rangga Aditya (king)
5. Vino G Bastian (serigala terakhir)
15. Aktris UtamaTerbaik
1. Atiqah Hasiolan (jamilah dan sang presiden)
2. Atiqah Hasiolan (ruma maida)
3. Marcella Zalianty (under the tree)
4. Marsha Timothy (pintu terlarang)
5. Revalina S Temat (perempuan berkalung sorban)
16. Film Terbaik
1. Jamilah Dan Sang Presiden (mvp pictures)
2. Merah Putih (media desa & margate house films)
3. Merantau (PT. merantau films)
4. Perempuan Berkalung Sorban (PT. kharisma starvision)
5. Under The Tree (set film & credopictures)
Itulah keseluruhan nominie dan terbaik diantara yang terbaik, bagaimana dengan anda..., apakah menurut anda nominie diatas pantas masuk atau anda punya penilaian sendiri??? Lantas, seperti apakah susunan nya menurut anda???
Kategori diatas secara umum hampir menyamai kategori yang ada di Festifal Film Indonesia, eitsss..... ingat!!! Akhir bulan ini FFI siap mengumumkan para nominator di FFI 2009 dan pertengahan Desember akan diadakan malam penganugerahan piala Citra, kita lihat saja apakah ada kesamaan penilain juri FFI dengan yang saya susun diatas.
MAJU TERUS PERFILMAN INDONESIA!!!!!!!
